Tampilkan postingan dengan label Ulasan Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulasan Film. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 November 2014

Predestination: A Fizzle Bomber's Paradox Life



Fictional story of time travel has been such a thing in films’ plot story, a contradiction which leads into a complicated time loops that sometime and some viewers may have a little bit wondering in understanding.

Predestination, film Australia yang diproduksi di kota Melbourne namun mengambil set kota New York tahun 60-70an, mengambil sub tema time travel film fiksi ilmiah garapan sutradara Peter Spierig dan Michael Spierig ini merupakan film yang diadaptasi berdasarkan sebuah cerita pendek milik Robert A. Heinlein berjudul "--All You Zombies--".

Setelah Daybreakers, Ethan Hawk kembali digaet oleh Spierig bersaudara untuk menjadi tokoh sentral dalam film ini, namun bukan untuk menjadi seorang vampire melainkan seoran temporal agent yang bertugas untuk “reshaping the wrongdoings” lewat penemuan mesin waktu yang secara misterius berada dalam naungan Mr. Robertson yang secara sleek diperankan oleh Noah Taylor. Selain itu film ini disebut sebagai sebuah breakout performance dari bintang horror Jessabele, Sarah Snook. Perannya sebagai seorang hermaprodit sangat mencuri spotlight dalam film ini.

Review
Mengangkat tema time travel, Predestination menyuguhkan satu tontonan dengan atribut yang mungkin sedikit membingungkan, at least for some viewers. Film ini menyatukan kombinasi cerita fiksi mesin waktu yang dibumbui dengan konsep perpetual story yang membuatnya sangat scientific namun dibahas dalam nada paradox yang tetap membuatnya terlihat fiksi. Diibaratkan sebagai Capillary Bowl nya Robert Boyle, film ini menampilkan satu ulangan waktu yang terbentuk menjadi sebuah siklus. “A snake that eats its own tail”. Sekilas dan secara keseluruhan mengingatkan pada 2012 Time Travel Saga, Looper. Film fiksi ilmiah dengan tema kriminalitas dengan adegan thriller dan suspense yang menjadi penguat cita rasa Predestination.

Predestination mengambil setting waktu antara tahun 1945 sampai 1993, range dekade yang cukup lebar ini mampu ditampilkan dengan sukses dalam tatanan production design yang khas dan bercita rasa sendiri pada tiap perbedaan waktunya. Terlebih, pusat pelatihan Space Corp yang mengambil set waktu tahun 70an menampilkan tema biru-putih yang mungkin terlihat bright light namun masih memiliki nuansa vintage yang tetap me70s kannya. Setingan bar di tahun 60an akhir juga merupakan satu bentuk visual sukses merepresentasikan masanya. Tatanan kostum juga merupakan hal vital yang juga sukses membuat Predestinantion sebagai sebuah film lintas dekade.

Scoring music, yang dari awal hingga akhir secara konsisten dan intense bernuasa “tergesa-gesa” dengan alunan beating drum dan denting jarum jam sangat pas dengan tema mesin waktu yang merepresentasikan waktu itu sendiri dan sangat membantu dalam membangun suasana pengeksekusian sebuah misi. Disisi lain, juga menciptakan sisi emosi dan dramatis yang membuat beberapa adegan tetap terasa suspensionnya namun dengan emosi melankolik dalam dramatisasinya.

Pengeksekusian karakter dari 3 tokoh sentral, Ethan Hawk, Sarah Snook dan Noah Taylor merupakan satu kombinasi permainan karakter yang masing-masing memainkan jiwa karakternya. Sarah Snook jelas memberikan satu ‘pengalihan’ dengan acting memukaunya namun Ethan Hawk juga tidak bisa dibilang biasa saja. Dan Noah Taylor, berhasil menjadi karakter yang tetap misterius namun masih memperlihatkan bahwa ialah yang menjadi otak dibalik semua cerita ini. Dan satu hal menarik tentang Predestination dan setiap karakternya adalah ada banyak ungkapan dikutipkan yang disispkan dalam naskah dialog namun dengan cerdik sebenarnya disembunyikan. Karena beberapa kutipan tersebut merupakan kunci dari cerita film secara keseluruhan.

Film’s Wrap Up
For spoilers!!!, predestinantion mengungkapkan kesimpulannya pada beberapa menit sebelum film usai. Bagi beberapa orang mungkin masih belum dengan mudah dimengerti, namun film ini berjalan pada timeline yang berputar dimana karakter Sarah Snook adalah versi mudanya karakter Ethan Hawk. Perkataan bahwa mereka tidak memiliki masa lalu, keluarga dan masa depan adalah karena mereka berasal dari satu jiwa yang sama. Adegan dimana Ethan Hawk berada di bar dan mengobrol dengan versi pria Sarah Snook merupakan upaya dia untuk mereset atau mengulang misinya yang belum berhasil mengungkap tentang ‘Frizzle Bomber’. Secara singkat, ia mengajak kembali versi muda (Sarah Snook) ke masa dimana ia masih menjadi wanita, disana secara jelas diperlihatkan bahwa ketiga karakter tersebut adalah sama namun dari tiga waktu yang berbeda. Dari sanalah ia mengirim kembali Sarah Snook ke masa mendatang untuk kembali memulai dari awal tugas nya. END!.

In the end, Predestination merupakan sebuah film yang membuat penontonnya menikmati satu adegan film bertema time-looping namun secara bersamaan menuntut mereka untuk berjibaku dengan teori-teori fisika yang sebenarnya disanalah cerita film ini berada. 85% Satisfying film!

Jumat, 14 November 2014

These Final Hours: A Dramatic And Chaotic Earth's Final Hours



Ketika satu bencana besar datang dan akan menghancurkan seluruh isi planet bumi apa yang mungkin orang akan lakukan ketika jam-jam terakhirnya? Could be anything. That's what "These Final Hours" story about, tentang kegetiran jam-jam terakhir sebelum planet bumi hancur, a total apocalypse. Ketika manusia berusaha meluapkan apapun yang ingin ia lakukan sebelum kehancuran datang, ketika sebagian menghadapinya dengan tangan terbuka, sebagian memilih tak melakukan apapun, sebagian memilih berpesta ria dan tak banyak yang memilih menyerah lebih awal, namun satu yang menyamakan kesemua manusia itu, yakni desperation.

These Final Hours merupakan film garapan sutradara Zak Hilditich yang tayang perdana pada 2013 lalu di Melbourne International Film Festival, dan theatrical release pada Juli tahun 2014 di Australia. Selain itu film ini discreening pada  ajang Cannes Film Festival pada bagian Directors' Fortnight Section 

One bloody thing about this film is that, if you are stranger to aussie accent you'll find such a cumbersome in getting what they really say, because its like they talk something so extremely shorter than what it is usually spoken in american, or british instead. Poor this film, there's still no Indonesia and even english subtitle uploaded. So as of now, you have to watch it subsless.

Films Wrap Up


These Final Hours sebuah film dengan basic story nya drama namun dibumbui dengan segala jenis rasa mulai dari scicence fiction apocalyptic nya sebagai latar belakang, thriller survival sebagai penguat emosi penonton dan sebuah romansa cinta di ujung waktu dunia sebagai benang merahnya. "I'm here!" film yang menampilkan cerita tentang seorang pria James (diperankan Nathan Phillips) tentang jam-jam terakhirnya di planet bumi yang harus bertarung dengan waktu dan kekacauan untuk menlong Rose (Angourie Rice) seorang anak kecil yang tak sengaja ia selamatkan dalam perjalanan untuk mengantarkannya pada sang ayah namun juga sebuah gejolak dalam dirinya (James) bertanya-tanya, where does he actually belong in this final hours of earth? or whom precisely.

Sebuah film yang politically clean, yang akan mengingatkan penonton pada beberapa nama besar blockbuster hollywood bertemakan sama, sebut saja Armageddon dan Deep Impact. Dan film "These Final Hours" ini seperti sebuah extended version dari pada climax film-film tersebut karena ceritanya yang langsung menusuk pada titik dimana manusia sudah harus dipaksa menyerah dengan meninggalkan penjelasan ilmiah sebagai sebabnya. Film yang kalau dipikir secara liar, akan mengingatkan kita pada beberapa kasus dan bagian dengan film serupa. Misal, untuk thrillernya seperti sebuah day version of The Purge, dan keputusasaannya seperti sebuah outdoor version of The Divide. Especially for the ending, its a total reminiscent of Deep Impact.Bukan maksud dibanding-bandingkan, hanya saja film ini benar-benar memiliki emosi kuat yang meramu semua kemungkinan rasa yang timbul dalam sebuah film yang bercerita tentang akhir dunia. Sedikit trivia, buat orang-orang yang gemar musik dance dan electronic semisal garapan Calvin Harris, David Guetta dan Zedd di bagian awal dan akhir film akan sedikit terasa seperti sebuah video klip musik, If you know, its like Guetta's Without You, Zedd's Find You dan/atau Calvin Harris' Under Control.

These Final Hours, sebuah film yang menampilkan sisi dramatic dan chaotic sebelum kehancuran bumi diracik dengan sederhana namun tidak kehilangan kemegahannya, membawa emosi penonton kedalam setiap alur ceritanya, scoring musik yang mendukung dan tidak berlebihan serta tone gambar yang bernuansa panas dan gerah semuanya menjadikan These Final Hours sebagai tontonan yang menghibur namun juga sekaligus menggusur. Menggusur penonton masuk ke dalam atmosfir filmnya. Film yang secara konsisten hanya mengambil lokasi di sebuah komplek suburbia di pesisir pantai Pert Australia ini mampu menampilkan cerita secara global sekaligus menjadikannya mudah bagi penonton masuk kedalam ceritanya, so easily and logically relatable.

This film is literally science fiction, but obviously a dramatic and realistic possibility about human's desperation. Worth to watch terutama di jam-jam hening. 85% fresh for your viewing pleasure. And Last, adult content and violence are things that you have to be awared of.

Selasa, 11 November 2014

The Babadook: A Clash of Monster Within And Monster Around



TBH, The Babadook was the film i was dying to see after i found out that it's been universally acclaimed horror films. I didn't even see the trailer clip, i didn't read its synopis i was just giving my trust to those oranged stars appeared, i believe this film is good and i want to see it! YKW, i had just done watching the film, here's the review:

Films Wrap Up

Seperti biasa, masa lalu adalah salah satu bentuk dasar yang membentuk bagaimana kita nanti, atau sekarang. Traumatik, sulit untuk moving on dan terus terbayang-bayangi adalah titik dasar dari film ini. Yap, satu jiwa yang terus diselimuti oleh masa lalu yang tidak mengenakan membuat jiwa terasa mudah goyah dan berada dalam situasi sulit. "I need to sleep!", Amelia, seorang ibu yang harus berhadapan dengan masa lalu yang terus membayanginya tatkala ia harus ditinggal mati sang suami akibat kecelakaan tepat disaat ia hendak melahirkan anak nya, Samuel. Parahnya, justru semua kejadian menyakitkan itu tak bisa dengan mudah ditinggalkan sebagaimana Samuel yang selamat dilahirkan menjadi momok yang terus membawanya ke kejadian dimana ketika ia lahir dia pun kehilangan suaminya.

The Babadook adalah film horror yang menyuguhkan cerita dan tampilan visual yang saling menyulam satu sama lain. Bukan sekedar horror yang menakut-nakuti yang memusatkan Hantu (Monster as it appeard in the film) sebagai tema ceritanya melainkan menjadikan Monster sebagai simbol horror yang memberi efek takut dengan tema pusat cerita adalah karakter pemainya yang mana disini ditampilkan bahwa terkadang manusia sendiripun mampu menumbuhkan jiwa monster dalam dirinya.

Thanks to direcor Jennifer Kent yang telah mampu menghasilkan satu sajian film horror yang mana penonton diajak untuk memadu padankan emosi dan teror ketakutan. Kombinasi antara thriller psikologi dan supernatural yang tidak kehilangan kehorroran nya namun juga disisipkan rasa moral nya. Yes! The Babadook, cerita yang biasa namun terkesan berbeda. I'm satisfied, and the time i spent waiting to finally see this film is well worth it.

90% fresh! Thank you and Ba-ba-ba! Dook-dook-dook!

Housebound: A Seriously Head Kicker Film



When you watch a seriously thrilling film but you can't get enough thrilled instead of laughing on how obvious thrilling moments turn into some kind of ridiculiousity thats gonna shake your whole mind. Thats it! thats exactly what this film could poissibly described, a seriously funny one.

Wait, what's the film actually anyway is? haha, this is 'Housebound', a New Zealand comedy horror film released earlier this year. A directorial debut feature film by Gerard Johnstone and as well as writing it.  The film stars Morgana O'Rilley as a house arrested woman who finds supernatural experience in her mother's suspectedly haunted house.

As always, a film that i found on a movie hunting via briliantly generated machine named google had attracted me the most in almost no aspect of what internet might gives detail about it, except for the rates as it holds a 95% approval in rotten tomatoes gave me enough reason to have a will to give it a worth screening try. And one fact that the film is notably a horror with comedish flavor in it was a little bit 'wait up' for Housebound to get it soon storaged, but yeah lucky me and lucky Housebound it all meet together in a perfect daylight horror terror that doesn't take me down but in fact laughing me out quite loud.

Film's Wrap Up

Visually, Housebound is a pure horror film with actions and sequences that's gonna quite thrill you, set in a New Zaeland country side in an old house that really has a taste of being terrified. And the scoring as well, i find myself joy of watching the film is also because how the sound fx doesn't bother the authenticity of what horror films traditionally deliver, something that sounds cold, dark, mysterious but glorious.

Deepening the characters' portrayal may lead this film is successfully rewarded as comedy horror film. Yes, its human behaviours who always becomes the centers in a film that audience can easily interpret of whats emotion they feel along the film's running down. So as Housebound, characters plays key role in making it so successful about giving the audience the other taste that some may covering the part that they actually should be thrilled instead of being made laughing. Mrs. Mirriam Bucknell is surely the one that nailed it, she actually ruins some seriously thrilling actions and melt it down, I'm laughing quite hard seeing her along way down the film.

One last thing that complete this film is the plot itself, it has such a well done story writing, not just about easy to predict crap stories but a films that full of comedy but has story in it, and its quite complex. Before entering pre climax, i still have to guess of where the story may lead. But the more it goes on, the more the truth is revealed, no plot holes, everything is well executed. In the middle of the story, i find this film is a little bit combination of Shia LaBeouf's Disturbia and The Pact. But overall, what makes it so original is what conclude all the stories in the end, its beautifully terrified! and funny in between.

Last, personally i really like this film! so much!. Housebound is a film that whether you want to watch it seriously or too serious you will find yourself laughing and terrifying. It is really entertaining and scary in any ways you want. Really last, a little bit spoiling about the film's story, esp about some blood stream scene and its ending. If you're no stranger to Mario Maurer's ridiculous Sarane Siblor, be aware! you will find the famous same exact bloodbursting jokes!

Thats all, thank you! go watch the film because i'm rating its 90% worth to watch. I'm dismissed and see yaa :D

Rabu, 01 Oktober 2014

Annabelle: Origin Story of Warren's Darling Doll



Parade October horror-thriller film dimulai dengan Annabelle reissuing. Filmny rilis lebih awal dibanding di US sana dan sampai Tasik pun tepat waktu. Sebenernya semenjak tau kalau Annabelle rilis awal oktober sudah direncanakan bahwa kalo udah tayang harus nonton dan akhirnya kesampean.

Film yang merupakan spin off dari box office hits tahun lalu The Conjuring ini memang cukup ditunggu tunggu. Jika menilik penampakannya di The Conjuring, jelas tokoh boneka setan ini sudah mencuri perhatian dan Warner Bross pun tak tunggu lama untuk segera mengangkatnya ke layar lebar sebagai sebuah spin off terbukti dengan proses produksi yang memakan waktu tak lebih dari satu tahun.

James Wan yang sebelumnya mendirect The Conjuring kini dalam Annabelle bertindak sebagai Producer dan bangku sutradara diisi oleh John R. Leonetti. Film berdurasi 98 menit ini dibintangi Annabelle Wallis dan Ward Horton sebagai sepasang suami istri yang mengalami berbagai teror gaib berbau satanic yang melibatkan Annabelle sebagai tokoh sentral sebagai mediumnya.

Film's Wrap Up
Secara umum tema cerita tidak terlalu berbeda dengan The Conjuring, yakni seputar kasus spiritual yang melibatkan sesosok mahluk jahat, setan. Dan mungkin bisa disinggung pada beberapa aspek dengan film Insidious. Dari sisi kehorroran, tidak diragukan lagi. Shock effect nya baik itu visual maupun audio sangat sukses membuat gaduh seisi studio, menyuguhkan sisi tradisionalitas sebuah film horror, yakni membuat penonton menahan nafas beberapa saat untuk kemudia boom! sound effect mengambil alih dengan sambarannya. Dari segi penceritaan, beberapa mungkin sedikit mengecewakan. Terutama pada bagian awal dan ending film. Sebenarnya, saya berharap ada penjelasan lebih mengenai sekte pemuja setan (apalah lupa lagi namanya) yang sebenarnya merupakan akar dari semua cerita horror Annabelle. Dan untuk masalah ending entah kenapa terasa sangat datar dan antiklimaks. Mungkin saya yang memang dalam sebuah film selalu bermasalah dengan endingnya, tapi rasanya apa yang terjadi diakhir terlihat terlalu didramatisir dan dipaksakan.

Overall personally, Annabelle sebagai sebuah spin off film memang tidak lebih bagus dari pada The Conjuring. Tapi sebagai sebuah film horror, it gives what horror film conventionally deliver. A terror to your soul. Its 70% worth to watch.